Bola  

Setelah Piala Dunia U-17 2023, Lalu Apa?

Setelah euforia hampir satu bulan dilewati, pertanyaan satu juta dollar yang muncul adalah: Lalu apa setelah Piala Dunia U-17 digelar di Indonesia?

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com

Jakarta, CNN Indonesia

Teriakan ‘Auf geht’s Deutschland scheißt ein tor!’ dan ‘Allez Les Bleus!’ menggema di Stadion Manahan, Solo, pada malam Piala Dunia U-17 2023 Indonesia. Teriakan itu bersandingan dengan dukungan yang diselingi tepuk tangan para penonton lokal ‘Jerman!’ atau ‘Prancis’. Sesekali juga sholawat berkumandang dari sektor yang diisi para santri.

Atmosfer meriah ini turut menghiasi pertandingan final yang berjalan sengit antara timnas U-17 Jerman dan timnas U-17 Prancis. Setelah saling balas gol yang membuat skor menjadi dua sama selama 90 menit plus perpanjangan waktu, Jerman keluar sebagai weltmeister U-17!

Kiper Jerman Konstantin Heide tampil gemilang dengan menggagalkan penalti yang dilesakkan Bastien Mepiyeou dan Tidiam Gomis, sedangkan tendangan Nhoa Sangui melambung di atas mistar gawang.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah kemeriahan dan euforia yang telah dilewati selama kurang lebih tiga minggu ini, pertanyaan satu juta dollar yang muncul adalah: Lalu apa setelah Piala Dunia U-17 digelar di Indonesia?

Tentunya ada beberapa hal yang semestinya menjadi perhatian kita, untuk menggunakan momentum Piala Dunia U-17 ini, untuk pembangunan sepak bola Indonesia ke depannya.

Salah satu hal yang dapat menjadi perhatian adalah sistem pembinaan usia muda yang diterapkan di negara-negara peserta Piala Dunia U-17, terutama dari finalis Jerman dan Prancis. Kejayaan Jerman di turnamen ini, lagi-lagi menunjukkan komitmen Jerman untuk melewati proses yang benar menuju kemenangan.

Sebelum juara Piala Dunia 2014, Jerman melakukan berbagai perubahan dalam sistem pembinaan usia mudanya, termasuk kurikulum. Perubahan ini dilakukan setelah Jerman terpuruk di Euro 96, di mana mereka gagal lolos fase grup. Sistem ini kemudian akhirnya melahirkan pemain-pemain seperti Manuel Neuer, Thomas Muller, Mesut Özil, Mats Hummels, Toni Kroos, yang menjadi tulang punggung skuad 2014.

Hal yang sama dilakukan Jerman, pasca-kegagalan Die Mannschaft di beberapa turnamen setelah kejayaan 2014. Ketika itu perdebatan yang mengemuka dalam dunia sepak bola Jerman adalah, bagaimana mereka menyusun formula baru untuk meraih kembali kejayaan.




Timnas Jerman U-17 sukses menjadi juara Piala Dunia U-17 untuk kali pertama. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/rwa)

Mereka pun akhirnya menyusun kurikulum pembinaan baru, yang menekankan pada bagaimana menciptakan pemain spesialis di setiap posisi alih-alih menciptakan pemain versatile yang bisa bermain di banyak posisi.

Contohnya di posisi striker, mereka akan mendesain latihan-latihan yang spesifik, sehingga dapat menciptakan seorang striker dengan atribut-atribut striker yang menonjol seperti finishing, link up play, kemampuan duel udara, akselerasi, pergerakan tanpa bola, dll.

Jadi, walaupun striker yang diciptakan tersebut tidak begitu bagus dalam bertahan, tapi atribut-atribut khas striker yang dimiliki, di atas rata-rata. Dan berdasarkan pernyataan pelatih kepala timnas U-17 Jerman Christian Wuck, anak-anak asuh yang ia bawa untuk berlaga di Indonesia merupakan generasi pemain hasil didikan kurikulum terbaru.

Kita pun cukup beruntung dapat menyaksikan langsung hasil dari kurikulum baru tersebut, dan sepertinya, Jerman ada di trek yang benar untuk kembali meraih kejayaan seperti pada 2014.

Pelajaran yang kurang lebih sama juga bisa kita dapatkan dari finalis Prancis. Di mana Perancis selalu mampu melahirkan talenta-talenta hebat di setiap generasi secara konsisten. Konsistensi dalam menelurkan bakat pemain bal-balan ini tak terlepas dari peran Institut National du Football de Clairefontaine, atau biasa dikenal disebut Clairefontaine saja.

Clairefontaine merupakan markas timnas Perancis dan pusat pengembangan sepak bola, yang termasuk di dalamnya akademi yang termasyhur milik asosiasi sepak bola Perancis FFF. Semenjak dibuka pada tahun 1988, akademi Clairefontaine telah konsisten menelurkan bakat-bakat besar sepak bola Perancis.

Mulai dari pemain-pemain yang menjadi tulang punggung Les Bleus di Piala dunia 1998 dan Euro 2000 seperti Zinedine Zidane, Thierry Henry, Didier Deschamps, hingga bakat-bakat terkini yang juara Piala Dunia 2018 seperti Kylian Mbappe, Raphael Varane, dan Paul Pogba.

Akademi Clairefontaine fokus pada pembinaan pemain-pemain muda berusia 13 hingga 15 tahun, yang merupakan bakat-bakat terbaik, yang diseleksi dari seluruh Prancis, dengan seleksi yang ketat. Di Clairefontaine penekanan secara khusus diberikan pada bagaimana menciptakan pemain-pemain yang memiliki perpaduan kekuatan atletik yang bagus dan teknik yang sempurna, karena dengan modal ini, mereka dapat dengan fleksibel bermain di berbagai macam sistem permainan.




Pesepak bola Timnas Indonesia berfoto sebelum pertandingan babak penyisihan grup A Piala Dunia U-17 2023 melawan Timnas Maroko di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (16/11/2023). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/aww.Indonesia harus menjadikan momentum usai Piala Dunia U-17 2023 untuk memperbaiki manajemen sepak bola usia muda. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/aww)

Itulah kenapa, biasanya para pemain-pemain Prancis tidak kesulitan beradaptasi bermain di negara-negara lain. Selain membentuk pemain, Clairefontaine juga fokus membentuk pribadi yang cakap di luar lapangan. Bagaimana para pemain ini juga tetap harus belajar di sekolah-sekolah di sekitar akademi dan memiliki nilai akademik yang bagus, karena menurut mereka, hal ini juga akan berpengaruh terhadap kecerdasan seorang pemain di lapangan, selain tentu, mempersiapkan kehidupan mereka di luar lapangan kelak.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Tentunya momentum Piala Dunia U-17 ini seharusnya menjadi refleksi bagi kurikulum sepak bola nasional kita yang tertuang dalam Filanesia sejak 2017. Bagaimana implementasinya sejauh ini? Apakah sudah mampu menjawab kebutuhan tren sepak bola terkini? Lalu bagaimana sistem pembinaan yang kita bangun? Termasuk di dalamnya kompetisi usia dini yang menjadi wadah uji coba bagi implementasi Filanesia tersebut.

Di antara semua peserta Piala Dunia U-17, sepertinya hanya Indonesia yang menggelar audisi terbuka karena ketiadaan kompetisi usia dini yang berkualitas, berjenjang, serta kontinyu. Tentunya ini menjadi hal-hal yang harus secara serius dapat dijawab oleh PSSI, pasca-euforia Piala Dunia U-17 2023.

Membangun sepak bola tentu tidak dapat mengandalkan satu elemen saja, perlu kerja gotong royong berbagai pihak, dengan tugas dan kapasitas masing-masing. Pemerintah misalnya, terutama melalui Kemenpora, tidak perlu terlalu fokus pada perbaikan prestasi di tingkat elit. Tapi bagaimana caranya pemerintah dapat menjamin akses masyarakat terhadap olahraga di tingkat akar rumput dalam hal ini sepak bola.

Pemerintah harus bisa menjamin akses masyarakat terhadap infrastruktur sepak bola, pendidikan yang berkaitan dengan pengembangan sepak bola, dan bekerja sama dengan PSSI menyemarakkan kompetisi di tingkat akar rumput, seperti kompetisi antar sekolah di Jepang misalnya.

Kita sebagai masyarakat awam pun, dapat memiliki andil dalam pembangunan sepak bola. Setidaknya, alih-alih hanya berkomentar melalui jari-jari kita di media sosial, kita dapat terjun langsung turut menyemarakkan gairah sepak bola di akar rumput.

Bisa dengan menjadi relawan di klub-klub amatir atau SSB, misalnya jika Anda seorang akuntan, Anda dapat membantu klub amatir di sekitar anda untuk menyusun laporan keuangan klub secara rapi. Atau anda seorang ahli gizi, anda dapat membantu SSB atau klub amatir di sekitar anda dengan memberikan konsultasi gizi bagi mereka.

Ada banyak cara dan peran yang dapat kita pilih, yang penting kita bergerak dalam suatu aksi yang nyata. Karena lagi-lagi berkaca pada Jerman, dalam sustainability report DFB, yang menjadi fondasi sepak bola Jerman adalah sepak bola amatir. Karena dari sanalah para pemain mengenal sepak bola pertama kalinya, para relawan belajar mengelola klub secara profesional.

Oleh karena itu DFB menyebut sepak bola amatir yang dikelola secara profesional adalah kebanggaan terbesar sepak bola Jerman.

Setelah keriuhan Piala Dunia U-17 2023 di Indonesia, mari kita manfaatkan momentum ini bersama-sama menyingsingkan lengan baju, bergotong-royong membangun sepak bola kita, demi impian menyambut parade juara Piala Dunia, di Indonesia, suatu hari nanti.

(har)

Sumber: www.cnnindonesia.com