Bola  

PBSI Mesti Gerak Cepat, ‘Kiamat’ Sudah Dekat

Daftar dua wakil Indonesia yang lolos ke 16 besar India Open 2024 usai menang di babak 32 besar, Selasa (16/1).

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com

Jakarta, CNN Indonesia

Tulisan ini dibuat dengan harapan bukan sebagai bahan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai gambaran ancaman besar yang saat ini mengintai dan menanti.

Ada hal lain yang patut dikhawatirkan selain persiapan Tim Badminton Indonesia menuju Olimpiade 2024 Paris. Hal tersebut adalah masa depan prestasi pemain-pemain Indonesia untuk beberapa tahun mendatang.

Mundur ke belakang, pemain-pemain yang jadi andalan di Tim Badminton Indonesia saat ini adalah mereka yang merupakan jebolan Kejuaraan Dunia Junior 2013-2014 atau mereka yang masuk Pelatnas Cipayung pada era awal Gita Wirjawan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jonatan Christie, Anthony Ginting, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Gregoria Mariska Tunjung, dan Apriyani Rahayu adalah wajah-wajah utama Tim Badminton Indonesia saat ini. Belum lagi nama lain seperti Kevin Sanjaya Sukamuljo. Mereka sudah melalui perjalanan panjang dan seringkali jadi andalan sejak usia bela.

Di era Kepengurusan Agung Firman, seharusnya mereka ada di periode usia emas. Dengan usia 26-28 tahun, seharusnya momen Olimpiade Paris 2024 jadi momentum terbaik bagi mereka untuk meraih prestasi maksimal.

Namun nyatanya sejauh ini jelang Olimpiade, tanda-tanda kekhawatiran yang justru terasa lebih kuat. Kering gelar di turnamen bergengsi seperti Kejuaraan Dunia dan Asian Games dan minim gelar di BWF Tour jadi sejumlah sinyal bahwa posisi Tim Badminton Indonesia saat ini justru lebih dekat dengan kegagalan dibandingkan keberhasilan.




Dari segi waktu, kepengurusan PBSI era Agung Firman sebenarnya mendapat timeline terbaik karena memiliki komposisi pemain yang sedang berada di usia emas. (Dok. PBSI)

Ketika pemain-pemain generasi emas yang seharusnya ada dalam periode terbaik mengalami kegagalan, tentu kemampuan PBSI menjalankan roda organisasi yang patut jadi pertanyaan.

Padahal PBSI era Agung Firman ini dinaungi garis timeline terbaik dibanding pengurus-pengurus sebelumnya. Lantaran Olimpiade diundur setahun, sukses Greysia Polii/Apriyani Rahayu di Olimpiade Tokyo 2020 yang berlangsung di 2021 secara fakta berada di dalam periode kepengurusan mereka, meskipun harus diakui bahwa proyeksi untuk Olimpiade 2020 disusun sejak era Wiranto di bawah komando Susy Susanti.

Hal yang sama juga berlaku untuk Piala Thomas 2020 yang diundur ke 2021. Sukses mengembalikan Piala Thomas yang hilang sejak terakhir kali dimenangkan pada 2002 juga bisa tercatat sebagai prestasi periode kepengurusan mereka.

Bila PBSI era Agung Firman mampu mengantar atlet memenangkan emas Olimpiade, mereka akan tercatat sebagai kepengurusan PBSI yang mampu memberikan emas di dua edisi Olimpiade yang berbeda. Hal itu juga didukung kondisi atlet yang sudah seperti dipaparkan sebelumnya, berada dalam usia emas dari segi kematangan dan pengalaman.




Ginting menang lawan Jonatan di Indonesia OpenJonatan dan Ginting saat ini termasuk pemain dengan jam terbang tinggi di jajaran pemain papan atas dunia. (CNNIndonesia.com/Adi Maulana)

Namun prestasi di tahun pertama kepengurusan Agung Firman tersebut tak berlanjut di tahun-tahun berikutnya. Ketiadaan juara dunia hingga minimnya gelar di BWF Tour jadi catatan-catatan yang dibawa Tim Badminton Indonesia jelang Olimpiade 2024.

Seburuk apapun hasil dalam masa persiapan dan perjalanan, Tim Badminton Indonesia tidak akan benar-benar kehilangan peluang meraih emas di Olimpiade mendatang sampai akhirnya Olimpiade benar-benar usai dengan hasil yang sudah bisa dipamerkan, baik itu keberhasilan atau malah kegagalan.

PBSI masih punya waktu untuk berbenah dan kembali mengingat, bahwa kepengurusan mereka saat ini dibekali pemain-pemain yang seharusnya sedang dalam periode terhebat.

Masa depan setelah Paris 2024

Bila banyak yang khawatir dan harap-harap cemas terhadap Paris 2024, sejatinya ada kekhawatiran lain yang pantas mengemuka dan terasa sama besarnya. Kekhawatiran itu adalah tentang bagaimana Tim Badminton Indonesia berjalan setelah Olimpiade 2024.

Seperti halnya periode-periode kepengurusan sebelumnya, kepengurusan PBSI berganti selepas Olimpiade usai. Artinya kepengurusan PBSI era 2024-2028 mendatang bakal punya tujuan utama meraih emas Olimpiade 2028 yang berlangsung di Los Angeles, Amerika Serikat.

Sebagai pengingat, untuk empat tahun ke depan, pemain-pemain yang saat ini sudah jadi tulang punggung utama sudah memasuki usia 30 tahun. Artinya, regenerasi mutlak dilakukan.

Masalahnya kepengurusan PBSI era Agung Firman sejauh ini belum terbukti bisa menyiapkan pelapis-pelapis yang bisa menyodok dan siap jadi andalan untuk Olimpiade Los Angeles mendatang. Padahal persiapan menuju Olimpiade Los Angeles 2028 adalah persiapan jangka panjang, tidak bisa dimulai ketika kepengurusan baru berjalan.

Angkatan Kejuaraan Dunia Junior 2019 bisa dibilang sebagai generasi yang dari segi usia bakal ideal untuk jadi andalan menuju Olimpiade Los Angeles 2028. Nama-nama seperti Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin, Febriana Dwipuji Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi, Putri Kusuma Wardani, dan Christian Adinata adalah deret nama yang memperkuat Indonesia saat itu dan masih ada di Pelatnas Cipayung saat ini.

Namun dari deret nama tersebut, saat ini tidak ada yang masuk peringkat 10 besar BWF. Posisi terdekat adalah Leo/Daniel di peringkat ke-11 dan Ana/Tiwi di urutan ke-17.




Rionny Mainaky dan Amon Sunaryo di Malaysia Open 2024. (Arsip PBSI)Rionny Mainaky yang jadi Kabid Binpres PP PBSI dari awal era Agung Firman hingga Februari 2024 punya tanggung jawab penuh terhadap naik-turun prestasi badminton Indonesia. (Arsip PBSI)

Hal lain yang lebih menyedihkan, secara keseluruhan pemain Indonesia juga tidak banyak berada di posisi 50 besar dunia.

Per ranking BWF 20 Februari, pada nomor tunggal putra hanya ada Anthony Ginting (5), Jonatan Christie (9), dan Chico Aura Dwi Wardoyo (32). Alwi Farhan masih ada di urutan ke-60, Yohanes Saut Marcellyno di 101 dunia, sedangkan Alvi Wijaya ada di 122 dunia. Christian Adinata yang mengalami cedera sejak pertengahan 2023 kini ada di urutan 153.

Di nomor tunggal putri, pemain Indonesia yang ada di urutan 50 besar adalah Gregoria Mariska Tunjung (7), Putri KW (30), dan Ester Nurumi Tri Wardoyo (38).

Komang Ayu Cahya Dewi ada di posisi 58, disusul Stephanie Widjaja (101), Bilqis Prasista (112), dan Ruzaqna (117).

Pada nomor ganda putra, di kategori 50 besar ada Fajar/Rian (7), Bagas/Fikri (9), Leo/Daniel (11), Ahsan/Hendra (13), dan Sabar Karyaman Gutama/Reza Pahlevi (45).

Ada pula Kevin/Marcus yang sudah lama vakum dan kini duduk di posisi 84 dunia. Di luar itu, tidak ada pemain ganda Indonesia lain di jajaran 100 besar dan kini mereka tengah siap melakukan perombakan.

Pada nomor ganda putri, ada Apri/Fadia (9), Ana/Tiwi (17), Lanny Tria Mayasari/Ribka Sugiarto (29), Meilysa Trias Puspitasari/Rachel Allessya Rose (33), dan Jesita [utri Miantoro/Febi Setianingrum (42).

Sedangkan di nomor ganda campuran, ada Rehan Naufal Kusharjanto/Lisa Ayu Kusumawati (16), Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari (18), Dejan Ferdinansyah/Gloria Emanuelle Widjaja (20), dan Adnan Maulana/Nita Violina Marwah (37).

Gambaran di atas menunjukkan bahwa Indonesia sejatinya berada dalam masa genting yang membahayakan untuk masa depan. Tidak banyak wakil Indonesia yang di jajaran 30 besar, dan pemain di 50 besar pun terbilang minim.

Zaman sudah berubah dan salah satu syarat untuk mengikuti turnamen adalah ranking. Sejago-jagonya seorang pemain, ia tidak akan langsung bisa turun di turnamen Super 1000 bila tidak punya ranking yang baik.

Karena itu, ia harus melalui persiapan dan perjuangan bertahap, mengumpulkan poin demi poin dari turnamen yang lebih kecil sehingga akhirnya poin yang dimiliki cukup membuatnya bisa didaftarkan ke turnamen lebih besar.

Masalahnya pengiriman pemain muda oleh PBSI ke turnamen-turnamen kelas bawah tidak terbilang masif. Padahal untuk turnamen kelas bahwa tidak semuanya harus berbicara soal peluang meraih gelar dan sebagainya.

Ada tujuan lain yang harus dipenuhi yaitu pengayaan pengalaman dan jam terbang dan yang terpenting adalah perburuan poin untuk modal penting bagi mereka bisa tampil di turnamen yang lebih besar.

Pemain-pemain dari Taiwan dan India jadi salah satu contoh yang agresif mengirim pemain-pemain muda ke berbagai pertandingan. Jika dihitung, jumlah total pemain mereka di 100 besar pada lima nomor yang ada kini lebih banyak dibanding pemain Indonesia.

India punya total 42 wakil di 100 besar dari lima nomor yang ada. Taiwan lebih fantastis karena punya 58 wakil di jajaran 100 besar dunia di lima nomor yang ada.

Sedangkan Indonesia hanya punya 32 wakil di jajaran 100 besar dunia dari lima nomor yang ada, itu pun sudah termasuk pemain yang telah dibongkar dan tak lagi berpasangan.




Ester Nurumi Tri Wardoyo saat melawan Wong Ling Ching pada perempat final BATC 2023 di Setia City Convention Centre, Selangor, Malaysia, Jumat (16/2). (Dok. PBSI)Ester Nurumi Tri Wardoyo jadi salah satu pemain muda Indonesia yang saat ini sudah duduk di posisi 38 dunia.  (Dok. PBSI)

Artinya setelah Olimpiade 2024 berakhir dan perburuan menuju Olimpiade 2028 dimulai, India dan Taiwan punya posisi start lebih bagus untuk regenerasi dan mengorbitkan pemain-pemain muda mereka di luar pemain andalan yang sudah ada.

Belum lagi berbicara persaingan keras dari negara-negara kuat badminton selama ini seperti China, Jepang, Korea, Thailand, dan Malaysia.

Ricky Soebagdja, yang kini jadi Kabid Binpres PBSI baru menggantikan Rionny Mainaky yang diinstruksikan fokus ke Olimpiade Paris 2024, mesti menyadari penuh hal tersebut.

Indonesia sudah kalah start, namun setidaknya PBSI saat ini harus sadar untuk mengejar ketinggalan di sisa waktu yang ada sebagai modal dan warisan untuk kepengurusan PBSI berikutnya.

Bila memang dana tidak jadi kendala, PBSI wajib rajin mengirimkan pemain-pemain muda ke berbagai turnamen di tahun ini, bahkan yang terbilang jauh dan berat di ongkos.

Karena bila itu tidak dilakukan, pemain-pemain muda Indonesia akan makin kesulitan. Ketika usia mereka bertambah, saat kemampuan mereka makin terasah, mereka justru telat dan tak bisa terjun ke turnamen utama karena terhambat ranking yang masih terlalu rendah.

Saat Indonesia kesulitan mempersiapkan generasi lanjutan dari pemain hebat, di situlah berarti kiamat bagi badminton Indonesia makin terus mendekat.

[Gambas:Video CNN]

(har)

Sumber: www.cnnindonesia.com