Bola  

Messi dan Derita-derita yang Luntur dari Kostum Argentina Miliknya

Lionel Messi dalam kostum Argentina adalah gambaran tentang penderitaan dan tekanan. Kini semua sudah luntur dan hilang berganti kegembiraan.

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com

Jakarta, CNN Indonesia

Melihat Lionel Messi berkostum Argentina dalam lebih dari satu dekade ke belakang adalah melihat sebuah gambaran tentang tekanan dan penderitaan. Kini semuanya luntur dan telah hilang berganti kegembiraan.

Messi yang termenung. Messi yang melangkah gontai. Messi yang menengadah ke langit menahan air mata yang ingin memberontak keluar.

Itulah pemandangan-pemandangan yang umum dan lazim terlihat ketika menyaksikan Messi berbalut kostum Argentina. Ada tekanan dan bahkan penderitaan besar yang dirasakan di balik kebanggaan Messi membela Argentina.

Semua itu lantaran ia selalu dibandingkan dengan sang maestro Diego Maradona.

Argentina selalu dibalut oleh rasa rindu dan rasa kehilangan yang teramat dalam akan sosok Diego Maradona — legenda yang mengantarkan Tim Tango juara Piala Dunia terakhir kalinya.

Karena itulah setelah dia pensiun, banyak nama yang langsung dibebani sebagai ‘Titisan Maradona’ di timnas Argentina.

Marcelo Gallardo, Ariel Ortega, Pablo Aimar, Javier Saviola, dan Juan Roman Riquelme adalah deretan nama yang sempat mengecap label sebagai Maradona Baru. Nama-nama itu menjelma jadi pemain bintang, namun tidak benar-benar menyentuh level istimewa tempat Maradona berada.


Lionel Messi pernah begitu identik dengan kegagalan demi kegagalan saat berkostum Argentina. (AFP PHOTO / ODD ANDERSEN)

Lalu kemudian muncul Lionel Messi. Seperti beberapa seniornya, Messi lantas disematkan sebagai ‘Titisan Maradona’. Kaki kidal dan gaya dribel yang menawan jadi persamaan.

Pengakuan Messi sebagai ‘Titisan’ pun makin terasa nyata karena Maradona sendiri turun tangan memberikan restu kepada dirinya.

“Saya sudah melihat pemain yang mewarisi jejak saya di sepak bola Argentina dan namanya adalah Messi. Saya melihatnya sangat mirip dengan diri saya,” tutur Maradona di tahun 2006.

Sejak saat itu, Messi lalu menanggung nama besar Maradona di punggungnya. Nama Messi makin sahih sebagai pewaris Maradona berkat aksi-aksinya yang memukau bersama Barcelona.

Momen gol solo Messi ke gawang Getafe, yang mirip dengan gol fantastis Maradona ke gawang Inggris, pun kemudian jadi bukti berikutnya Messi memang sosok luar biasa.

Messi bisa menjawab tantangan-tantangan besar itu di level klub namun tidak demikian halnya saat berkostum Argentina.

Dari segi pencapaian, terhitung dari 2007-2016, Messi bisa membawa Argentina ke empat final dengan rincian tiga Copa America (2007, 2015, 2016) dan satu Piala Dunia (2014).

Performa itu terbilang luar biasa. Namun untuk negara sebesar Argentina, tanpa gelar juara, hal itu tiada artinya.

Suara-suara sumbang bahwa Messi tidak layak disejajarkan Maradona mulai bermunculan. Messi dianggap hanya hebat ketika berkostum Barcelona tetapi kehilangan sihirnya saat membela Argentina.

Kalah di tiga final dalam tiga tahun beruntun pada periode 2014-2016 jelas merupakan pukulan telak bertubi-tubi yang harus ia terima.

Tekanan kuat itu yang membuat Messi sempat frustrasi dan memutuskan untuk pensiun membela Argentina di 2016. Keputusan pensiun itu jelas bertentangan dengan kata hati dan kebanggaannya membela Argentina.

Namun kata-kata itu adalah gambaran betapa besarnya tekanan yang ia rasakan sebagai sosok jenius bernomor punggung 10 tumpuan harapan seluruh rakyat Argentina.

Cinta dan dukungan dari banyak suporter Argentina yang pada akhirnya membuat Messi menarik keputusan pensiun yang telah ia buat.

Tapi bukan berarti kemudahan langsung datang. Butuh lima tahun dan pergantian generasi di timnas Argentina sampai akhirnya Messi bisa mengangkat trofi Copa America di tahun lalu.

Kemenangan ini melegakan namun belum sepenuhnya menghapuskan tekanan, penderitaan, sekaligus pengharapan. Messi tahu bahwa hanya trofi Piala Dunia yang bisa menghapus semua luka yang ada, baik untuknya maupun rakyat Argentina.


FILE - In this June 27, 2010 file photo, Argentina head coach Diego Maradona, left, gives instructions to Argentina's Lionel Messi during the World Cup round of 16 soccer match between Argentina and Mexico at Soccer City in Johannesburg, South Africa. The Argentine soccer great who was among the best players ever and who led his country to the 1986 World Cup title before later struggling with cocaine use and obesity, died from a heart attack on Wednesday, Nov. 25, 2020, at his home in Buenos Aires. He was 60. (AP Photo/Matt Dunham, File)Selalu dibandingkan dengan Diego Maradona adalah beban berat yang ditanggung Lionel Messi sepanjang kariernya. (AP/Matt Dunham)

Messi menggila, Argentina juara

Di usia 35 tahun, Messi datang tetap sebagai pemimpin Argentina di Piala Dunia 2022. Ia bukan sosok pemain tua pelengkap skuad atau penghangat bangku cadangan.

Namun ada hal yang berbeda dibanding Piala Dunia edisi sebelumnya. Kali ini ia banyak dikelilingi anak-anak muda yang tumbuh sambil menjadikan Messi sebagai sosok idola sekaligus tujuan dan panutan.

Hal itu yang kemudian jadi kolaborasi luar biasa. Barisan pemain muda ini begitu mati-matian mewujudkan mimpi Messi mengantar Argentina juara Piala Dunia.

Messi pun tidak berpangku tangan dan berdiam diri. Ia berusaha keras untuk tetap jadi pemimpin yang bisa diandalkan pasukannya.

Namun Messi juga menaruh kepercayaan yang sangat besar pada rekan-rekan setimnya. Timnas Argentina yang lebih solid terbentuk di Piala Dunia 2022 bila dibandingkan edisi-edisi sebelumnya yang sejatinya juga bertabur bintang.

Laga demi laga dilalui, Messi dan Argentina akhirnya menapak ke partai puncak. Saat Argentina unggul dua gol, wajah Messi sudah terlihat berseri-seri bahkan ketika ia gagal memaksimalkan peluang ke gawang lawan.

Tetapi ketika Prancis tiba-tiba bisa mencetak dua gol penyama kedudukan, ekspresi-ekspresi familiar Messi saat berkostum Argentina mulai tampak nyata. Messi terlihat kecewa dan tekanan yang hebat kembali datang.

Messi dan Argentina dihadapkan pada ketakutan besar. Bahwa mimpi juara Piala Dunia kembali gagal di langkah terakhir.

Namun berbeda dibanding Piala Dunia 2014 ketika Messi tak berdaya memberikan serangan balik, Messi kini berdiri tegak mempertaruhkan semua kemungkinan.  Berdiri sebagai pemenang atau kembali menampilkan sosok Messi yang kembali menderita bersama Argentina.

Kali ini, Messi akhirnya sukses pada pertarungan yang ia hadapi. Messi dan Argentina mengalahkan Prancis dengan skor 4-2 lewat adu penalti setelah imbang 3-3 dalam waktu 120 menit.


Soccer Football - FIFA World Cup Qatar 2022 - Final - Argentina v France - Lusail Stadium, Lusail, Qatar - December 18, 2022   Argentina's Lionel Messi, Emir of Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani and FIFA president Gianni Infantino during the trophy ceremony REUTERS/Hannah Mckay     TPX IMAGES OF THE DAYLionel Messi akhirnya bisa mengantar Argentina juara Piala Dunia. (REUTERS/HANNAH MCKAY)

Messi akhirnya menyudahi final Piala Dunia 2022 dengan tawa gembira. Derita-derita yang selama ini ia rasakan telah luntur seluruhnya.

Messi telah melepas beban sekaligus memberikan jawaban. Di mata rakyat Argentina, Messi berhasil mewujudkan harapan.

Messi kini jadi sosok yang benar-benar layak bersanding bersama Maradona sebagai ‘dewa sepak bola’.

Di tengah keriuhan dan pesta para penggemar Messi dan Argentina, satu hal yang mungkin disayangkan adalah Maradona tak lagi ada di dunia untuk melihat Messi benar-benar telah berhasil mengikuti jejaknya.

[Gambas:Video CNN]

(vws)







LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS

Sumber: www.cnnindonesia.com