Bola  

Barnes Anggap Inggris Munafik Kritik Qatar Soal LGBT

John Barnes mengkritik Inggris dan negara-negara yang mempertanyakan perlakuan tuan rumah Piala Dunia 2022, Qatar, terkait pekerja migran dan komunitas LGBT.

Jakarta, CNN Indonesia

Legenda timnas Inggris John Barnes mengkritik Inggris dan negara-negara yang mempertanyakan perlakuan tuan rumah Piala Dunia 2022, Qatar, terkait pekerja migran dan komunitas LGBT.

Pemerintah Qatar dikritik habis-habisan sepanjang Piala Dunia 2022. Salah satu yang dipermasalahkan adalah perlakuan terhadap pekerja migran.

Qatar mengubah undang-undang ketenagakerjaan dalam beberapa tahun terakhir, membongkar sebagian besar sistem sponsor ‘kafala’, meningkatkan upah minimum dan menyiapkan dana asuransi untuk membantu para migran yang ditipu.

“Meski masih ada banyak yang harus dibenahi, situasinya [di Qatar] jauh berubah dibanding sepuluh tahun yang lalu, dengan perbaikan perumahan, fasilitas dan upah,” ujar Barnes dikutip dari Reuters.

“Menarik untuk diamati bahwa beberapa dari mereka yang membuat banyak keributan [mengenai Piala Dunia di Qatar] sekarang tidak banyak bicara tentang perkembangan Qatar selama 20 tahun terakhir,” ucap Barnes.

Barnes, yang memperkuat timnas Inggris sebanyak 79 kali sepanjang 1983 hingga 1995, mengutuk sikap Qatar terhadap hak-hak LGBT. Namun legenda Liverpool itu mengatakan para tim dan suporter peserta Piala Dunia 2022 harus menghormati hukum di Qatar.

Barnes meyakini melakukan boikot dan tidak hadir di Piala Dunia 2022 akan memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar mengenakan ban kapten pelangi One Love.

“Qatar telah mengundang semua orang ke Piala Dunia 2022, orang gay atau heteroseksual, tetapi mereka menuntut semua orang untuk menghormati cara, hukum, dan budaya mereka,” kata Barnes.

[Gambas:Video CNN]

“Warna pelangi dan ban lengan One Love mempromosikan sesuatu yang ilegal di Qatar, meski menurut kami seharusnya tidak demikian. Pengunjung di negara kami [Inggris] juga tidak akan diizinkan mempromosikan sesuatu yang ilegal,” ucap Barnes.

Barnes kemudian mengatakan munafik bagi kritikus Inggris yang berusaha menemukan kesalahan Qatar. Padahal tindakan diskriminasi terhadap komunitas kulit hitam terjadi di Inggris.

“Sementara diskriminasi diterapkan dalam hukum Qatar, diskriminasi juga diterapkan dalam masyarakat dan budaya Inggris. Banyak orang kulit hitam dihentikan, digeledah, dan ditahan hanya karena mereka berkulit hitam. Mari bereskan diri sendiri sebelum kita mulai memberi kuliah dan ceramah ke seluruh dunia,” ujar Barnes.

(har)







Sumber: www.cnnindonesia.com