Bola  

Agripinna Cerita Kronologi Kasus Match Fixing hingga Dihukum BWF

Atlet bulutangkis Indonesia Agrippina Prima Rahmanto Putra blak-blakan ungkap kronologi dirinya terjerat match fixing hingga dihukum berat BWF.


Jakarta, CNN Indonesia

Atlet bulutangkis Indonesia Agrippina Prima Rahmanto Putra membeberkan kronologi dirinya terjerat match fixing hingga dihukum berat BWF.

Sebanyak delapan pebulutangkis Indonesia dihukum berat BWF (Badan Bulu Tangkis Dunia) lantaran terjerat kasus taruhan dan match fixing. Rilis itu dikeluarkan BWF pada Rabu (27/3) berdasarkan hasil update keputusan.

Delapan atlet Indonesia yang dijatuhkan hukuman berat oleh BWF karena terkait match fixing adalah Hendra Tandjaya (ganda putra, ganda campuran), Ivandi Danang (ganda putra, ganda campuran), Androw Yunanto (tunggal putra, ganda putra), Sekartaji Putri (tunggal putri, ganda campuran), Mia Mawarti (tunggal putri), Fadila Afni (tunggal putri, ganda putri), Aditiya Dwiantoro (ganda putra), dan Agriprinna Prima Rahmanto Putra (tunggal putra, ganda putra, ganda campuran).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hukuman BWF itu merupakan kelanjutan dari tuduhan pada 2021. Agripinna Prima Rahmanto dihukum larangan 6 tahun sampai 18 Januari 2026 di badminton dengan denda US$3 ribu. Seluruh hukuman tersebut berlaku sejak 18 Januari 2020.

Agrippina dihukum karena masuk dalam pusaran kasus pengaturan skor pada gelaran Vietnam Open 2017.

“Itu kejadiannya pada 2017. Jadi saya ditawarin oleh pihak tertentu untuk mengalah tapi saya dengan dan sangat jelas menolak tawaran tersebut,” kata Agrippina dikutip dari Antara.

Kasus tersebut naik ke tahap penyidikan. Lalu pihak BWF memanggil Agri dengan status terduga. Dalam panggilan tersebut, Agri menyerahkan bukti berupa pesan yang diberikan oleh tersangka yang menawarinya untuk kalah di babak kedua pada Vietnam Open 2017.

“Saya datang saja ke [pemanggilan] BWF dengan [barang bukti] handphone yang ada pesan dengan oknum tersebut, saya kan percaya diri karena di situ sangat jelas saya menolak tidak mau,” ujar Agri.

Usai dilakukan penyelidikan selama kurang lebih 3-4 tahun, Agrippina yang berstatus terduga memperoleh surat hukuman dari BWF.

Agrippina dijatuhi hukuman karena tidak melaporkan perihal tawaran pengaturan skor tersebut kepada federasi dunia.

Agrippina yang pernah berpasangan dengan Marcus Gideon tersebut sebenarnya punya peluang banding. Namun, upaya tersebut urung dilakukannya karena sudah sakit hati dengan keputusan BWF yang datang lebih dulu.

“Sebenarnya saya bisa banding. Misalnya banding, aturannya dari BWF ke PBSI baru ke saya, baru saya banding. Tapi ini pas dari PBSI melaporkannya sudah ada putusan dari CAS, itu seperti lawyer-nya olahraga,” ujar Agri.

[Gambas:Video CNN]

(rhr/nva)

Sumber: www.cnnindonesia.com